PSIKOLOGI

 

“Prang!” sekali lagi terdengar bunyi piring pecah di dapur rumah Mama Laras. Hari ini sudah dua kali Kevin yang masih berusia 4,5 tahun memecahkan piring. Yang pertama saat membawa piring ke dapur. Yang kedua saat diam-diam Kevin mengambil dari rak piring.

Punya anak mandiri memang membanggakan. Namun bila ingin membantu melakukan sesuatu yang sepertinya di luar kemampuannya, apa yang harus dilakukan?

Anak ingin berpartisipasi membantu kegiatan orangtua memang bukan cerita baru. Hal bagus ketika anak memiliki keinginan untuk membantu kegiatan orangtuanya. Menurut Jack Anderson, Ph.D. Psikolog dari University California, bahwa salah satu cara belajar anak adalah dengan meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Jadi apabila anak ingin membantu, hal tersebut dapat mengembangkan kecerdasan emosi anak.

Anderson juga menambahkan bahwa apa yang dilakukan si kecil, walaupun hasilnya belum sukses alias lebih banyak berantakannya, tetapi sebaiknya orangtua tidak melarangnya. Melarang hanya akan membuat si kecil tidak dihargai dan di beri kesempatan. Bisa-bisa tumbuh menjadi pribadi yang tidak memiliki kepercayaan diri dan cenderung pesimis.

Win win Solution

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan demi mendapatkan win win solution (si kecil merasa dihargai dan diberi kesempatan, sementara orangtua pun merasa tidak was-was)

1.      Beri pilihan. Memberi anak pilihan yang ringan adalah langkah yang tepat. Semisal anak ingin membantu membawa vas bunga kaca yang besar, beri respon pilihan. “ Adek bantu Mama bawa piring kertas saja ya, biar vas bunganya Mama yang bawa. Nanti kalau sudah besar, Adek boleh bawa vasnya”

2.      Turunkan standar. Jangan memberinya standar tinggi, bagaimanapun ia masih dalam usia anak yang serba terbatas. Jadi bila ia ingin membantu membawa sepatunya ke rak, jangan berharap dahulu ia akan mengaturnya berjejer rapi. Biarkan saja ia sekedar menaruhnya dahulu, tapi setelah itu ajarkan cara yang benar dan aman.

3.      Minimalisasi Resiko. Saat anak memaksa untuk membantu, sebisa mungkin saring apa yang dapat dilakukannya. Misalnya anak memaksa membantu menyetrika karena menurut dia bisa dan menurutnya mengasyikan, jelaskan resikonya “kalau mau menyetrika harus hati-hati sayang, karena tangannya nanti bisa sakit dan terasa panas karena terkena setrikaan. Biar Mama saja, ya…”

4.      Sopan. Mungkin ini sering terlupakan, tetapi anak juga ingin dihargai. Selalu ajarkan kata “Tolong”. Saat menyuruhnya, “Tolong ambilkan Koran” akan terdengar jauh lebih enak dibandingkan “Mana Koran Mama? Ayo cepat sana ambil!” Ini juga mengajarkan padanya untuk sopan bila meminta tolong pada orang lain.

5.      Beri pujian tulus. Reward adalah hal yang sangat penting untuk membuat anak tahu bahwa usahanya dihargai. Jangan pelit pujian saat anak membantu. Walaupun hasilnya tidak sesuai harapan. Bahkan bila anak baru berniat membantu, berikan respon positif, misalnya “Wah pintar sekali anak Mama mau membantu”, atau berikan jempot dan senyum tulus.

Jadi biarkan saja si kecil sibuk membantu, asalkan sesuai kemampuan. Siapa yang menanam benih, ia yang menuai buahnya. Demikian  pula dengan Anda, sikapi dengan sabar si kecil yang seringkali memaksa untuk dapat membantu pekerjaan atau kegiatan orangtua. Kesabaran dari orangtua membuat anak tidak merasa tertolak dan maksud baiknya ‘dipatahkan’ begitu saja, tetapi juga belajar untuk mengerti situasi lingkungan sosialnya.