PARENT CLASS

 

MENGAPA SI KECIL KESULITAN MAKAN . . . ???

Ternyata banyak factor yang bisa menyebabkan masalah kesulitan makan atau feeding disorder pada anak.
Apa sajakah itu?

APA YANG DISEBUT KESULITAN MAKAN PADA ANAK?

Anak disebut mengalami kesulitan makan bila ia tidak mampu atau menolak untuk makan atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman yang diperlukan secara alamiah dan wajar yaitu dengan membuka mulutnya secara sukarela

BAGAIMANA CARA MENGENALI KESULITAN MAKAN PADA ANAK?

Biasanya melalui penanganan rehabilitasi medic, dokter akan mengevaluasi anak secara multidisiplin untuk mengetahui penyebabnya. Dari evaluasi ini akan terlihat sejarah tahapan pemberian makan, factor fisik & psikis anak, kesulitan yang dihadapi saat makan atau jika ada proses belajar makan yang terlewat dalam perkembangan anak. Bila sudah ditemukan diagnose yang tepat, dokter akan melakukan penanganan atau pengobatan.

APA YANG MENYEBABKAN KESULITAN MAKAN PADA ANAK?

Banyak factor yang menyebabkan kesulitan makan pada anak. Bisa dari factor adanya ganggguan struktur anatomi, fungsi fisiologi atau perkembangan psikomotor atau adanya gangguan ketrampilan makan akibat sakit berat. Kesulitan makan bisa juga disebabkan pola asuh dan pemberian makan yang salah sehingga membuat anak tidak bisa belajar mengembangkan ketrampilan gerak oralnya. Selain itu makan juga sering dijumpai pada anak dengan kasus palsi serebal, sumbing langitan, syndrome down atau penyakit kronis lainnya

TIPS MENGHINDARI KESULITAN MAKAN PADA ANAK :

  • Perhatikan tahapan pemberian makan yang benar, agar proses belajar berlangsung dengan tepat
  • Libatkan anak dalam proses pemberian makan. Jangan memaksa anak makan hanya untuk mengejar berat badan.
  • Buatlah suasana makan dan bentuk makanan yang menyenangkan.

Oleh : Weldian Cicana & berbagai sumber.

Layanan Psikologi KB & TK Pedagogia  FIP UNY

HATI-HATI MENGUMBAR JANJI PADA ANAK

Janji bagi anak bisa jadi bak oase di tengah gurun pasir. Sebuah impian yang paling ditunggu dan dapat membuat suasana hati yang sedih menjadi gembira. Apalagi janji itu dari ayah atau ibu. Janji bisa saja menjadi motivator pendorong anak untuk menjalani hari berat dalam kegiatannya di sekolah

Sayangnya orang tua seperti orang dewasa pada umumnya, kerap kali banyak urusan sehingga adakala lupa, merasa lelah atau tak dapat menolak tugas kantor. Padahal pada saat bersamaan anak-anak menunggu dengan penuh harap, akan janji yang sudah Anda ucapkan.

Kesal, marah dan sebal adalah respon yang wajar. Terlebih pada anak yang masih terbatas pemahaman dan kemampuannya mengerti urusan orang dewasa.  Anak-anak yang masih belum dapat mengelola emosi biasanya mengingat terus pengalaman ini tidak menyenangkan. Tetapi tidak sedikit diantara mereka yang di usia sangat muda memiliki pengertian yang dewasa. Mereka sadar bahwa dalam hidup kadang kala tak semua dapat dikendalikan dan dipastikan

Tentu saja, rasa kecewa itu menyakitkan bagi anak-anak yang diberi janji, begitu pula orang tua yang menjanjikan sesuatu. Tentu saja, itu tidak berarti ayah dan ibu dilarang memberi janji dan harapan. Sebab, janji dan harapan juga memperkaya hidup anak-anak kita.

Tapi, dari pengalaman yang dipaparkan anak-anak yang mencurahkan isi hatinya betapa kecewa ketika janji tidak ditepati. Dapat dituliskan dalam artikel ini untuk mengingatkan orang tua untuk tidak terus-menerus menghidupkan kebiasaan mengumbar janji pada anak, apalagi yang tidak realistis atau di luar kepala kita.

BERSAMA ORANG-ORANG TERKASIH,

YANG “BIASA-BIASA SAJA” MENJADI ISTIMEWA

Sebentar lagi liburan sekolah akan tiba, akan banyak waktu anak  bersama keluarga. Sebagai orang tua yang kreatif pasti sudah mempersiapkan rencana kegiatan yang akan di berikan kepada putra –putrinya ketika libur sekolah. Sebenaranya tidak harus pergi ke luar kota atau melakukan kegiatan di tempat yang jauh dari rumah kita karena banyak hal yang bisa dilakukan di rumah bersama keluarga seperti membuat suatu hal yang inovatif bersama Ayah, membantu kegiatan ibu di rumah, menanam pohon bersama kakak dan lain-lain. Mungkin salah satu orang tua yang kreatif tersebut adalah Anda . .

Kebersamaan dalam keluarga merupakan suatu kebutuhan vital bagi anak. Dalam kebersamaan dengan orang-orang yang dikasihinya, anak mendapatkan apa yang mereka butuhkan : cinta, rasa aman, disiplin diri, sosialisasi dan identitas yang jelas sebagai bagian dari kelompok yaitu keluarga, unit terkecil dalam masyarakat.

Sesederhanapun apapun suatu kebersamaan itu, bagi anak sudah merupakan sesuatu yang manis untuk di kenang. Membersihkan rumah bersama keluarga, menonton televise bersama ayah bahkan “makan bersama” yang merupakan kejadian sangat biasa dapat menjadi peristiwa yang sangat luar biasa karena mereka mengalaminya bersama-sama orang yang terkasih. Hal-hal biasa saja itu terkadang tidak pernah terpikirkan orang dewasa yang menamakan dirinya orang tua tersebut.     

Kenangan manis memang tidak selalu bearti kegembiraan. Kadang –kadang anak baru merasakan kebersamaan ketika mereka menghadapi rintangan. Kepedulian dan kasih sayang dari ayah, ibu, kakak, adik maupun anggota keluarga lainnya dalam membantu mengatasi masalah yang dialami anak tentu akan terpahat indah dalam hatinya yang tidak mudah terlupakan.

Bagi anak, semua kenangan manis bersama keluarga diharapkan dapat menjadi vaksin ampuh sepanjang masa. Saat mereka berhadapan dengan kekecewaan, kesedihan dan hal-hal yang  buruk dalam hidup mereka kelak, akan tetap tertanam keyakinan dalam dirinya bahwa hanya satu tempat aman yang selalu siap disinggahi, yaitu KELUARGA.

Oleh : Weldian Cicana & berbagai sumber.

Layanan Psikologi KB & TK Pedagogia  FIP UNY

 KOK,  BOHONG . . . ?

“Eh, tahu nggak, Carrefur itukan milik ayahku loh, ayahku itu ada di dalam sana . . .”

Begitu  cerita Salsabilla (5 tahun) kepada teman-temannya saat istirahat sekolah. Dewi sang Ibu hanya menggeleng prihatin mendengar anaknya berbohong lagi. Jelas-jelas Salsabilla tahu kalau ayahnya seorang pegawai dewasa yang bekerja di sebuah perusahaan percetakan.

“Lagi-lagi Si Kecil berbohong. Bagaimana ya, agar si Kecil tidak sampai dapat cap sebagai si pembual cilik atau si tukang bohong . . . ?”

MENGAJARKAN NILAI KEJUJURAN

Tentu kita tidak mau Si Kecil terus-terusan berbohong bukan? Untuk itu, atasi kebiasaan buruk tersebut dengan mencari terlebih dahulu penyebab kebohongan anak. Dengan mengetahui penyebabnya, Anda akan lebih mudah mencari solusinya. Misalnya , alasan anak berbohong karena ingin mendapat perhatian dari orang lain. Bila karena hal ini, tindakan Anda adalah lebih banyak member pujian dan penghargaan sehingga ia tidak perlu berbohong untuk mendapat pujian. Anda juga dapat menciptakan rasa aman pada anak, sehingga anak tidak mau berbohong hanya untuk menutupi kesalahannya.

Selain itu tanamkan pula nilai moral sejak dini. Ajarkan anak bahwa sikap saling menghargai dan mempercayai hanya dapat dibangun melalui kejujuran. Yakinkan anak bahwa ketidakjujuran merupakan hal yang salah dan dapat merugikan dirinya maupun orang lain.

INGIN DIANGGAP HEBAT

Banyak alasan mengapa anak berbohong. Salah satunya adalah ingin dianggap hebat dan mendapat perhatian atau pujian. Pada anak pra sekolah yang suka berbohong melakukannya karena belum dapat membedakan antara fantasi dan kenyataan. Alasan lainnya adalah untuk menghindari konsekuensi tak menyenangkan, menghindari hukuman atau penolakan akibat kesalahannya.

Eric Erickson, pencetus psikososial asal Jerman dalam buku The Developing Person Through The Life Span mengatakan, bahwa anak usia pra sekolah mulai memandang pengakuan orang lain terhadap dirinya sebagai hal penting. Mereka membayangkan hal yang menurutnya hebat dan akan mendapatkan pengakuan dari orang lain. Tak heran, anak bersikap demonstrative, salah satunya dengan cara berbohong. Sebaliknya pada usia ini anak rentan terhadap perasaan bersalah atau takut bila dikritik atau dimarahi karena berbuat salah atau gagal melakukan sesuatu. Hal ini ditutupi dengan berbohong.

Mengajarkan kejujuran memerlukan proses yang terus-menerus. Ciptakan suasana positif dan sikap jujur dalam keluarga Anda, sehingga anak merasa lebih aman dan nyaman berkata jujur ketimbang harus berbohong.

Oleh : Weldian Cicana & berbagai sumber.

Layanan Psikologi KB & TK Pedagogia  FIP UNY

ANAK TAK MAU MENDENGAR OMONGAN KITA

Berkali-kali perkataan dan permintaan Anda tidak dipedulikannya. Anda kesal, kehilangan kesabaran, dan  . . . . . . .  meledaklah amarah Anda!!!!

Mengapa Anak Anda bersikap demikian???

“Mitaaaaa….. Ayo berangkat!! Ambil sepatu Kamu!! Kata sang Mama. Tidak ada jawaban dari Mita. Gadis kecil itu tetap asyik menggambar di ruang tamu..!!”

  TIDAK PEKA URGENSI

Sebetulnya anak Anda tidak sungguh-sungguh membuat Anda jengkel, mereka hanya tidak memiliki kepekaan yang sama dengan orang tua dalam hal urgensi. Mereka berada di waktunya sendiri.

Persoalannya adalah anak usia 5-6 tahun sangat tertarik apa saja yang sedang dilakukannya. Anak-anak usia ini memiliki minat yang sangat kuat dan rentang perhatian yang sangat panjang, melebihi yang ia gunakan. Jadi berat sekali bagi anak untuk tiba –tiba menghentikan aktifitas tersebut.

ORANG TUA TERLALU MEMINTA BANYAK  

Adele Faber, salah satu penulis buku “How to Talk so Kids Will Talk” menyatakan ironisnya semakin orang tua mencela ketidak peduliannya, maka si kecil semakin kurang memperhatikan.

Salah satu strategi yang paling baik adalah, membiarkan anak memahami bahwa tindakannya mengandung konsekuensi. Misalnya : katakana kepadanya “kalau kamu tidak mau mandi sekarang, kita tidak punya waktu untuk menggambar”. Anak-anak usia ini mulai mampu menanggapi alas an dan mulai berpikir tentang waktu yang akan datang.

Arahkan, misalnya mengapa ia harus berangkat sekolah tepat waktu. Misalnya : “Bu guru ingin kamu berada di sekolah tepat waktu supaya jam belajarnya tidak mundur”

Bila Anda tidak mendapat tanggapan, INSTROPEKSILAH!!! Barangkali anda meminta terlalu banyak. Biasanya orang tua mudah sekali memerintah : ayo gosok gigi!!cuci muka!!ganti baju!! Terus tidur!!

Padahal bagi anak, urutan seperti itu sulit diingat. Oleh karena itu Psikolog Klinis Mark L.Goldstein, P.Hd menyarankan agar orang tua perlu belajar mengungkapkan perintah itu dengan cara yang lebih singkat dan tunggu kira-kira tiga puluh detik sebelum mengulangi perintah itu. Tatap mata anak, supaya ia tahu bahwa apa yang anda katakan adalah penting.

Di samping itu, orang tua perlu memberi contoh. Dengarkan anak bila ia bicara kepada Anda. Bila anak melihat kebiasaan Anda seperti itu, ia cenderung meniru kebiasaaan baik yang biasa Anda lakukan.

Kadang, Si Kecil punya cara sendiri untuk memberitahu orang tuanya kalau mereka ingin mengerjakan sesuatu dengan idenya sendiri. Berilah kesempatan padanya.

Oleh : Weldian Cicana & berbagai sumber.

Layanan Psikologi KB & TK Pedagogia  FIP UNY